Sepasang mata yang berbinar memberitahuku, cinta adalah sebuah essensi, membuatmu ingin sehidup semati, membuatmu menatap sendu wajah kekasihmu ketika ia terlelap, membuatmu merasa detik yg terlewat terlalu berharga untuk dilewatkan tanpanya... Cinta itu saling menghargai, meski kamu bukan seorang ratu, tapi cinta dengan kesederhanaannya memberimu nilai sebagai seorang ibu, iya ibu, bukan babu. Karena setiap kecupan lembut suamimu menjadi obat terbaik untuk setiap lelah, karena meski ia tidak memberi mu banyak tapi ia memberi mu cukup. Cukup kasih dan perhatian yang membuatmu tahu bahwa kamu tidak melewatkan hidupmu sendirian. Karena, hal yang lebih menyedihkan selain hidup sendirian adalah hidup bersama tapi merasa sendiri.
Lalu ada dia, seseorang yg menatapku sendu saat ku tanya apa itu cinta, dia bilang cinta itu rapuh, bisa terkikis dan menipis. Bagaikan sebuah kramik rapuh, tidak bisa terus menerus kamu perbaiki sampai tanganmu melepuh. Butuh perjuangan yang melelahkan, yang seiring dengan waktu membuatnya tidak cukup lagi. Karena menurutnya, cinta adalah kesabaran, saat wanita sudah tidak sabar menghadapi sikap lelakinya... Artinya dia berhenti mencintai lelakinya. Dan itu membuatnya seperti bom waktu yg bisa meledak kapan saja, saat cinta hilang karena gersang.
Definisinya membingungkan, tapi cinta itu tergantung darimana kamu berdiri, tanpa menghakimi. Karena seiring dengan bertambahnya usia kamu tahu bahwa cinta tidak melulu memiliki satu arti. Cinta bukan rantai yg mengikatmu, terlalu erat dan melukai.
Bagi saya, cinta adalah saling menghargai, sebuah kerja sama, butuh usaha yang besar untuk membuatnya berhasil, we need two lovers to make it works. But we only need one to destroy it.